PENGETAHUAN BISNIS DAN KETERAMPILAN MANAJEMen
"Wirausahawan sukses akan menggabungkan pemikiran kreatif dengan tindakan inovatif dan sekaligus menggabungkan pengetahuan bisnis dan keterampilan manajemen mereka. Kombinasi tersebut akan memastikan keberhasilan. Mereka akan terus-menerus mencari peluang yang khas dan unik, dan mengidentifikasi potensi bisnis dengan mengajukan berbagai pertanyaan dan mencari jawabannya. Viva wirausahawan Indonesia!...."
Di negara-negara penganut sistem pasar bebas, kegiatan bisnis telah memainkan peran kunci dalam memenuhi kepuasan berbagai kebutuhan manusia. Para pelaku bisnis – termasuk para pelaku usaha kecil dan menengah - dituntut kemampuan untuk menggabungkan berbagai faktor produksi, berupa kewirausahaan, sumber daya alam, tenaga kerja dan modal yang tersedia untuk memastikan efektivitas dan efisiensi bisnis, baik dalam rangka menciptakan keuntungan maupun untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat.
Manajemen bisnis adalah cabang khusus dari ilmu pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan harus memiliki obyek penelitian sebagai prasyarat untuk sistematisasi wawasan ilmiah. Dalam kaitan ini, muncul dua pertanyaan, pertanyaan pertama menyinggung tentang apa yang harus diamati dan dipelajari. Pertanyaan kedua, dari sudut pandang mana observasi dan studi akan dilakukan. Oleh karena itu, kegiatan bisnis, adalah obyek studi penelitian manajemen bisnis, sehingga manajemen bisnis merupakan asimilasi sistematis wawasan ilmiah dengan tujuan memaksimalkan tingkat pengembalian atau keuntungan. Manajemen bisnis dapat digambarkan sebagai ilmu yang memiliki keterkaitan dengan sistem pasar yang berorientasi profit, tentang bagaimana membangun bisnis, dan bagaimana mengelolanya dengan cara yang efektif dan efisien guna menjamin keuntungan bisnis yang maksimal.
Secara kesan sepintas terdapat kesamaan antara disiplin ilmu manajemen bisnis dengan ilmu ekonomi, yaitu berupa studi tentang kegiatan-kegiatan ekonomi guna memenuhi kebutuhan manusia. Namun, ketika dicermati lebih jauh tentang kedua ilmu tersebut maka akan semakin terlihat bahwa tujuan keduanya berbeda. Seperti telah disinggung tadi, bahwa tujuan dari manajemen bisnis adalah keuntungan atau memaksimalkan tingkat pengembalian, sedangkan tujuan ekonomi adalah memuaskan kebutuhan manusia secara umum. Obyek studi ilmu ekonomi berfokus pada peristiwa ekonomi dalam perekonomian nasional secara keseluruhan (makro). Sebaliknya, fokus dari studi manajemen bisnis tertuju pada bidang yang jauh lebih kecil (mikro), yaitu tentang apa dan bagaimana membangun dan mengelola kegiatan bisnis dengan cara yang efektif dan efisien untuk menjamin keuntungan yang maksimal. Dengan demikian semakin jelas, meskipun manajemen bisnis telah berkembang dari ilmu ekonomi dan akuntansi, namun ia telah memiliki lingkup permasalahan dan obyek studinya tersendiri.
Sebagaimana diketahui, terdapat beberapa faktor produksi yang dapat diidentifikasi, diantaranya adalah, yakni:
Sumber Daya Alam
Sumber daya alam (flora,fauna dan fosil) yang mengacu pada semua sarana yang disediakan oleh alam. Karakteristik sumber daya alam adalah bahwa sumber daya ini bersifat langka dan relatif terbatas. Contohnya adalah minyak mentah, air, mineral dan lain sebagainya.
Modal
Selama berdirinya kegiatan bisnis memerlukan modal untuk mulai beroperasi. Biasanya, modal ini didanai oleh para pemilik atau para investor yang menginvestasikan uang mereka dalam kegiatan bisnis.
Buruh
Tidak ada kegiatan bisnis yang dapat berfungsi tanpa manusia. Manusia memiliki pengetahuan, kemampuan fisik (teknik dan akademik), dan keterampilan untuk mentransformasikan bahan atau material menjadi produk siap pakai, dan menambahkan aspek pelayanan dan kewirausahaan.
Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah suatu proses melalui mana individu mencari sumber modal, termasuk tenaga kerja dan sumber daya alam dan menggabungkan kesemuanya dengan faktor risiko yang terkait dengan penyediaan barang dan/atau jasa.
Pengetahuan
Secara tradisional, hanya ada empat faktor produksi yang dapat diidentifikasi. Namun, Peter Drucker menambahkan butir kelima dari faktor produksi, yakni pengetahuan. Pengetahuan, sebagai butir kelima dari faktor produksi, muncul di era manajemen pengetahuan. Diakui oleh semua kalangan bisnis, bahwa teknologi informasi telah merevolusi kegiatan bisnis, sehingga menentukan akan pemenuhan kebutuhan (needs), keinginan (wants) dan kemauan (willingness) dengan lebih cepat dalam merespon barang dan/atau jasa yang ditawarkan. Motif ekonomi adalah memenuhi kepuasan dan kesetiaan masyarakat melalui barang dan/atau jasa yang disediakan. Pemuasan tersebut dapat dipenuhi dengan faktor-faktor produksi yang langka dan relatif terbatas yang dikenal sebagai prinsip ekonomi.
Metode tentang bagaimana ekonomi suatu negara beroperasi dikenal sebagai sistem ekonomi negara tersebut. Sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara akan menentukan kombinasi barang dan/atau jasa yang akan diproduksi, pembagian dan distribusi faktor produksi, persentase proses produksi yang ditugaskan untuk setiap buruh atau pekerja dan harga yang dikenakan untuk setiap barang dan/atau jasa termasuk pelayanan. Tiga sistem ekonomi yang paling penting adalah:
• kapitalisme, atau sistem pasar bebas (liberalis); • sosialisme, dan/atau sistem campuran; dan • komunisme, atau sistem pengendalian terpusat.
Untuk menjelaskan hal ini anggaplah kita memiliki dua lingkaran. Satu lingkaran adalah sistem kapitalis dan lingkaran lain adalah sistem komunis. Jika kita gerakkan kedua lingkaran ini secara berdekatan atau saling bersentuhan satu dengan lainnya, maka sistem sosialisme akan menjadi bagian dari kedua lingkaran yang saling tumpang tindih.
1. Kapitalisme atau sistem pasar bebas (liberalis)
Kapitalisme dibangun di atas prinsip-prinsip kepemilikan pribadi. Dalam sistem ini permintaan dan penawaran barang dan/atau jasa akan menentukan apa, bagaimana dan untuk siapa barang dan/atau jasa akan diproduksi. Dengan demikian, kapitalisme terbentuk didasari oleh hak untuk membuat keuntungan, hak untuk bersaing, hak memilih kebebasan dan hak untuk memiliki properti pribadi. Sistem kapitalisme didorong oleh mekanisme pasar dan menyerahkan solusi dan/atau resolusi permasalahan ekonomi suatu negara kepada kekuatan pasar untuk menyelesaikannya. Dalam hal ini, negara, individu, organisasi dan entitas lain dapat memiliki aset dan kewajiban. Permintaan dan penawaran barang dan/atau jasa beserta pelayanan akan menentukan harga atau tarif, kualitas dan kuantitas barang dan/atau jasa yang diberikan dengan entitas yang berbeda. Dalam sistem tersebut, setiap orang memiliki hak dasar untuk membuat keuntungan dari barang dan/jasa berserta pelayanan dimana harga akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Dalam sistem tersebut terdapat persaingan bebas sejalan dengan undang-undang yang dianut negara masing-masing, dimana para konsumen memiliki kebebasan untuk memutuskan barang dan/atau jasa apa yang mereka beli dan berapa harga yang mereka siap bayar. Menurut asas kebebasan setiap orang diberi keleluasaan memilih pekerjaan, menghasilkan, memberikan jasa atau membuat apapun yang diinginkan. Setiap orang dapat membeli, menggunakan dan makan apa saja yang mereka mapu dan disukai. Setiap orang dapat menghabiskan atau menyimpan uang sesuai hukum negara yang berlaku. Para pengusaha atau pemilik dapat menunjuk dan mengangkat kalangan manajemen. Pada gilirannya, manajemen akan memutuskan apa, bagaimana dan untuk siapa barang dan/atau jasa diproduksi sesuai dengan permintaan yang ada. Angkatan kerja memiliki pilihan bebas dimana mereka ingin bekerja dan untuk apa upah atau gaji mereka dipergunakan.
2. Komunisme atau sistem pengendalian terpusat
Komunisme terbentuk didasarkan pada ide-ide Karl Marx dan Friedrich Engels. Prinsip yang mendasari sistem ini adalah bahwa semua aset harus berasal dari sekumpulan orang. Artinya, semua orang harus bekerja sekeras mungkin yang pada gilirannya akan menerima barang dan/atau jasa. Meskipun teori ini tampaknya menarik, namun kelemahan besar dari sistem ini adalah bahwa negaralah yang memutuskan hal terbaik untuk rakyat. Dalam hal ini negara akan mengumumkan kepada rakyatnya tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana mereka melakukannya. Dalam sistem komunis negaralah yang memecahkan masalah ekonomi dan mengambil semua keputusan mengenai barang dan/atau jasa beserta pelayanan yang akan diberikan. Semua aktiva atau aset dan kewajiban adalah milik negara sehingga tidak ada motivasi bagi warga negara untuk membuat keuntungan. Dikarenakan negara yang memiliki semua entitas produktif, maka tidak ada persaingan diantara masing-masing entitas tersebut didalam negara dengan sistem komunisme ini. Konsumen juga tidak punya pilihan, karena negaralah yang menentukan harga barang dan/atau jasa. Negara mengontrol semua alat-alat produksi dan karena itu tidak ada kepemilikan dan keuntungan pribadi. Meskipun negara juga menunjuk suatu kelompok manajemen, namun manajemen tidak membuat keputusan sendiri dan harus mengikuti pedoman dan arahan yang telah diberikan oleh negara. Negara adalah satu-satunya penyedia kesempatan kerja, sehingga akan menentukan peluang kesempatan kerja serta besaran upah atau gaji yang diberikan kepada tenaga kerja.
3. Sosialisme atau sistem campuran
Sosialisme adalah sistem politik dan ekonomi, sebagaimana halnya kapitalisme, yang berorientasi pada pasar. Suatu sistem sosialis memiliki karakteristik yang dipengaruhi oleh kedua sistem besar, yakni sistem kapitalis dan komunis. Dalam kebanyakan kasus, negara memiliki dan mengendalikan faktor-faktor produksi yang paling penting dan karenanya mengontrol kegiatan produktif dan sumber daya yang paling penting pula. Hal ini biasanya mencakup industri primer seperti baja, minyak, emas dan batubara. Negara memainkan peran penting dalam menentukan alokasi atau relokasi faktor-faktor produksi, baik barang yang akan diproduksi maupun pendistribusiannya. Beberapa kepemilikan bebas oleh pihak swasta, bagaimanapun tetap diperbolehkan. Para pekerja dalam industri yang dikendalikan oleh negara tidak memiliki motivasi untuk membuat keuntungan dan harga yang telah ditentukan oleh negara. Sementara sebagian orang yang melakukan usaha sendiri dapat membuat keuntungan dan menentukan harga barang dan/atau jasa mereka didasarkan pada penawaran dan permintaan produk beserta pelayanan tersebut. Tidak ada persaingan antara organisasi yang dikendalikan oleh negara dengan harga dan kualitas produk yang relatif stabil. Namun di sisi lain, terdapat persaingan diantara organisasi swasta dimana konsumen memiliki kebebasan memilih. Dalam BUMN negaralah yang membuat semua keputusan, sedangkan di organisasi bisnis milik swasta manajemenlah yang membuat keputusan. Individu dalam sistem sosialis juga memiliki pilihan bebas dalam bekerja; namun negara dapat mempengaruhi kesempatan kerja. Untuk menavigasi organisasi bisnis di lingkungan yang bergejolak seperti saat ini, akan dibutuhkan para manajer yang memiliki berbagai keterampilan dan kualitas pengetahuan. Bidang disiplin manajemen sedang mengalami revolusi yang menuntut agar para manajer dapat berbuat lebih banyak lagi yang melibatkan para pekerja untuk lebih mencermati faktor perubahan ketimbang hanya mementingkan stabilitas ansich, dengan menetapkan visi dan nilai-nilai budaya yang memungkinkan para pekerja dapat menciptakan tempat kerja yang benar-benar kolaboratif. Adanya tuntutan perbedaan antara seorang manajer saat ini dan manajer masa depan telah mendorong para manajer untuk mengintegrasikan keterampilan manajemen yang solid. Bisnis yang sukses tidak terjadi begitu saja, melalui keterampilan dan ketekunanlah mereka berhasil menjadi seperti itu. Hampir setiap hari para manajer memecahkan masalah yang sulit, mengubah bisnis secara keseluruhan dan mencapai hasil yang sangat baik. Dalam hal ini, untuk menjadi sukses, setiap bisnis membutuhkan manajer yang terampil dan mumpuni.
Dunia bisnis adalah sistem yang kompleks yang merupakan perpaduan antara individu dan kegiatan bisnis, yang dalam ekonomi pasar, kesemuanya mengubah sumber daya yang terbatas menjadi barang dan/atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan, keinginan dan kemauan yang tidak terbatas dari setiap orang. Produk dan pelayanan ini ditawarkan ke pasar melalui pertukaran untuk mencapai keuntungan. Sumber daya, yang bisa juga disebut sebagai input dari suatu organisasi, adalah berupa sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sumber daya fisik, sumber daya informasi dan kewirausahaan. Sumber daya manusia adalah sejumlah orang yang melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi, yang terdiri dari tenaga kerja terampil, semi terampil dan tidak terampil, baik dalam posisi manajer ataupun bawahan. Sumber daya keuangan mengacu pada modal yang diperlukan untuk memulai bisnis baru, agar dapat menjalankan dan mengembangkan bisnis dengan sukses dalam jangka panjang. Modal dapat berasal dari pemilik organisasi (seperti ekuitas pemilik) serta non-pemilik (seperti pinjaman dari bank, kreditur dan surat hutang). Sumber daya fisik mengacu pada bangunan, peralatan, pabrik perakitan, komputer, air, kendaraan dan sebagainya, yang diperlukan untuk melakukan kegiatan organisasi. Informasi adalah sumber daya berupa data pada lingkungan manajemen, yang diantaranya adalah laporan keuangan tahunan dan sebagainya. Dan terakhir adalah kewirausahaan mengacu pada keterampilan khusus dan bakat untuk memulai sebuah usaha bisnis baru, agar mampu memperluas dan mengelola bisnis dengan sukses. Sumber daya organisasi atau input, harus ditransformasikan menjadi output tertentu. Hal tersebut termasuk pencapaian tujuan organisasi, pengiriman barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan,keinginan dan kemauan pelanggan, pencapaian tingkat produktivitas tertentu, dan mewujudkan keuntungan bagi semua pemangku kepentingan organisasi. Dalam rangka untuk mengubah input menjadi berbagai output, suatu proses akan diperlukan. Proses tersebut pada dasarnya akan mengacu pada dua jenis proses. Pertama, proses transformasi fisik yang diperlukan dimana input secara fisik diubah menjadi barang dan/atau jasa. Kedua, proses manajemen yang diperlukan, yaitu tugas menggabungkan, mengalokasikan, mengkoordinasikan dan menggunakan sumber daya atau input sedemikian rupa sehingga tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Dengan 'efisien', artinya kita dapat menggunakan sumber daya secara bijaksana dan dengan cara yang hemat biaya. Dengan 'efektif', artinya kita dapat membuat keputusan yang tepat dan berhasil menerapkannya. Hal yang penting untuk dicatat adalah, bahwa di satu sisi, sumber daya yang tersedia dalam bisnis relatif terbatas dan langka; di sisi lain, para pelanggan memiliki kebutuhan, keinginan dan kemauan yang relatif tidak terbatas. Tujuan bisnis juga bisa sangat menantang, yaitu menempatkan kepentingan yang lebih besar pada proses manajemen yang efektif dan efisien. Sumber daya yang diperlukan dalam bisnis sebagai input diambil dari lingkungan organisasi di mana fungsi bisnis berjalan. Demikian pula sebaliknya, output yang dihasilkan bisnis pada gilirannya diberikan kembali kepada lingkungan organisasi. Dengan demikian suatu bisnis kemudian dapat dilihat sebagai suatu sistem yang saling tergantung, dimana input dari lingkungan diberikan kembali sebagai output terhadap lingkungan dalam bentuk barang dan/atau jasa, penciptaan lapangan kerja dan sebagainya. Selain itu, bisnis adalah suatu sistem terbuka karena tergantung pada lingkungan dimana ia beroperasi. Suatu bisnis merupakan suatu sistem yang saling tergantung yang terdiri dari berbagai sub-sistem. Setiap sub-sistem adalah sistem dalam sebuah sistem. Dalam konteks bisnis, bagian pemasaran, operasi dan keuangan misalnya adalah sebuah sub-sistem, tetapi kegiatannya dapat dilihat sebagai sistem tersendiri. Pendekatan sistem dalam manajemen menawarkan sebuah kerangka di mana berbagai sub-sistem dari suatu organisasi dapat dipelajari secara terpisah, namun secara keseluruhan kegiatan di salah satu bagian dari sebuah organisasi dapat mempengaruhi aktivitas di bagian lain.
Menurut pendekatan sistem berpikir, para manajer akan memiliki tantangan untuk memadukan tujuan dan kegiatan berbagai sub-sistem dalam bisnis, sehingga tujuan dari sistem secara keseluruhan dapat dicapai dengan baik, begitu pula sebaliknya tujuan dari satu sub-sistem tidak sampai merusak tujuan keseluruhan organisasi.
|
Pendekatan sistem dalam suatu manajemen juga menyiratkan bahwa bisnis adalah suatu sistem terbuka yang memiliki hubungan khusus dengan lingkungannya. Dalam hal ini, manajemen perlu untuk merencanakan dan beradaptasi dengan setiap perubahan lingkungan bisnis. Saling ketergantungan antara bisnis dan lingkungannya mengarah ke hubungan yang kompleks antara bisnis dan lingkungannya, yang perlu dikelola dengan ekstra hati-hati.
Semua manajer terlibat dalam suatu kegiatan yang saling terkait untuk mencapai tujuan bisnis yang diinginkan. Dan hal ini setidaknya memerlukan empat fungsi dasar manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengendalikan.
1. Perencanaan Perencanaan biasanya adalah titik awal dalam proses manajemen. Dalam bentuk yang paling sederhana, perencanaan berarti menentukan posisi masa depan bisnis dan memutuskan strategi yang diperlukan untuk mencapai posisi tersebut. Selama tahap perencanaan, visi, misi dan tujuan ditetapkan terlebih dahulu disamping sumber daya yang dibutuhkan untuk tugas tersebut. 2. Pengorganisasian Pengorganisasian adalah langkah kedua dalam proses manajemen. Seorang manajer harus merancang dan mengembangkan sistem organisasi untuk melaksanakan rencana. Dengan demikian, mengorganisir dapat didefinisikan sebagai proses mendelegasikan dan mengkoordinasikan tugas serta mengalokasikan sumber daya untuk mencapai tujuan dan sasaran. Disamping itu mengembangkan kerangka atau struktur organisasi untuk menunjukkan bagaimana dan kapan orang dan sumber daya lainnya harus dikerahkan untuk mencapai tujuan. Keberhasilan bisnis terletak dalam mengarahkan sumber daya yang berbeda menuju pencapaian seperangkat tujuan. 3. Memimpin Seorang manajer harus memimpin para pekerja untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari mereka. Memimpin adalah proses mempengaruhi para pekerja - sebagai sumber daya manusia – agar dapat bekerja secara sukarela untuk mencapai tujuan. Manajer harus mengkomunikasikan tujuan organisasi kepada para pekerja dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut. 4. Pengendalian Tidak semua para pekerja melakukan hal yang mereka katakan. Dalam hal ini bisa saja tujuan organisasi tidak akan terpenuhi jika tidak ada proses tindak lanjut. Pengendalian adalah proses membangun dan menerapkan mekanisme untuk memastikan bahwa tujuan dapat tercapai. Suatu bagian penting dari pengendalian adalah mengukur kemajuan menuju pencapaian tujuan dan mengambil tindakan korektif bila diperlukan. Umpan-balik merupakan aspek penting dalam pengendalian yang berfungsi sebagai masukan dalam proses perencanaan. Untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengendalikan, maka para manajer memerlukan sejumlah keterampilan manajemen atau kompetensi. Para wirausahawan memiliki karakteristik tertentu yang membedakan mereka dari orang-orang yang bukan wirausahawan. Tentunya tidak berarti bahwa semua wirausahawan memiliki karakteristik – atau kombinasi karakteristik - yang sama. Yang jelas sejumlah wirausahawan bisa sukses karena mereka lebih siap untuk mengambil risiko, disamping sebagian dari mereka memang memiliki keterampilan yang kreatif-inovatif dan bakat di bidang manajemen. Setiap wirausahawan memiliki kombinasi yang unik dari sejumlah faktor sehingga mereka dapat mencapai sukses. Faktor-faktor tersebut sering dikenal sebagai faktor kunci sukses. Penelitian yang cukup luas telah dilakukan untuk mencoba menggambarkan para wirausahawan dengan karakteristik khas dan unik; namun ternyata temuan telah menunjukkan bahwa tidak ada wirausahawan yang khas dan unik tersebut. Peter Drucker, penulis dan konsultan manajemen terkenal, menggambarkan tentang profil seorang wirausahawan seperti berikut ini: “Memang diantara mereka ada yang eksentrik, kelebihan lemak, atau sebaliknya ramping; ada yang serius dan ada yang santai; ada peminum berat, ada yang tidak minum sama sekali; beberapa orang dari mereka memiliki pesona dan kehangatan yang besar, namun tidak jarang dari mereka juga ada yang memiliki kepribadian seperti makarel beku “. Dengan demikian, hanya sedikit wirausahawan memiliki semua faktor keberhasilan kunci yang telah diidentifikasi oleh para peneliti. Oleh karena itu kita lebih baik membahas esensi yang lebih penting ketimbang mempersoalkan karakteristik pribadi mereka. Melalui introspeksi dan evaluasi dirilah, seorang wirausahawan dapat mengenali apa kekuatan dan kelemahan pribadi mereka. Kekuatan dapat diterapkan secara positif dan kelemahan dapat diatasi oleh satu atau lebih hal sebagai berikut, yakni: • mengikuti pengembangan pribadi; • mengikuti kursus; dan • menunjuk staf dan/atau tenaga ahli untuk mengimbangi kelemahannya. Keterampilan, keahlian dan bakat wirausahawan, belum tentu menjamin sebuah organisasi bisnis yang sukses. Untuk memastikan keberhasilan dalam bisnis maka karakteristik bisnis dan keterampilan manajemen sangat diperlukan. Seorang dekorator interior yang sukses harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bahan, gaya furnitur dan penggunaan ruang. Pengetahuan tentang berbagai produsen dan produk serta berbagai pelayanan juga penting. Mereka juga harus peka tentang artistik dan memiliki kreativitas, serta memiliki kepekaan akan nuansa warna dan dimensi dalam rangka untuk memberikan ruang selera. Inilah yang dimaksud dengan keahlian dan bakat seseorang. Dekorator interior juga harus mampu menjalin hubungan antar manusia yang sehat, karena ia akan terus berhubungan dengan orang lain, seperti klien, para pekerja, pemasok dan masyarakat ketika barang dan/atau jasa organisasi tersebut dipasarkan.
Mereka harus pandai memastikan bahwa wirausahawan akan menggunakan keahlian dan bakat mereka untuk memberikan pelayanan terbaik pada para pelanggan, pada gilirannya hal inilah yang akan menjamin keberhasilan organisasi bisnis mereka. Ini adalah contoh dari karakteristik pribadi yang penting yang perlu ditampilkan oleh wirausahawan sukses. Karakteristik pribadi berikut lainnya juga perlu diperhatikan:
Ketekunan
Wirausahawan memiliki keyakinan terhadap diri sendiri dan organisasi mereka untuk terus melanjutkan kelangsungan usaha mereka meskipun kemunduran, situasi sulit dan masalah menghadang mereka. Mereka akan dituntut untuk membuat keputusan segera, akan tetapi juga dapat melatih kesabaran sampai tugas telah selesai dan tujuan telah tercapai. Mereka tidak berkecil hati ketika mereka membuat kesalahan atau gagal; Komitmen Wirausahawan perlu mendedikasikan semua kemampuan, keahlian dan sumber daya mereka untuk membangun dan mengembangkan organisasi bisnisnya. Mampu membuktikan komitmen mereka, misalnya dengan: • menggunakan uang mereka sendiri untuk kepentingan organisasi; • mengambil hipotek atau surat berharga lainnya; • bekerja berjam-jam demi keberhasilan organisasi; • bersedia menjalani standar hidup yang lebih rendah; dan • bahkan hanya mendapatkan sedikit atau menunda penghasilan dari organisasi yang ditekuninya;
Keterlibatan
Wirausahawan secara pribadi harus terlibat dalam organisasi dan menyadari sepenuhnya semua yang terjadi di semua tingkatan dan di semua bagian dari organisasi bisnis. Mereka melakukan tugas dan berkomunikasi dengan staf dan orang lain yang terlibat dalam organisasi, seperti pemasok dan pelanggan.
Contoh tentang seorang dekorator interior tadi akan mengingatkan kita tentang pentingnya keterlibatan pribadi dalam organisasi;
Berani mengambil risiko Pengambilan risiko perlu diperhitungkan, artinya bahwa risiko yang berkaitan dengan peluang bisnis tidak boleh terlalu besar, karena peluang sukses bukanlah di tangan wirausahawan semata, lagi pula mereka bukanlah seorang penjudi. Namun, tingkat risiko tidak boleh terlalu rendah, karena hal ini tidak akan menimbulkan tantangan dalam hal memanfaatkan peluang, sehingga peluang untuk meraup tingkat keuntungan pun menjadi terbatas; Mengembangkan Keterampilan Dalam diri seorang wirausahawan jangan pernah meremehkan kekuatan sendiri untuk tetap bersedia berubah dan memperbaiki diri sendiri. Keterampilan kewirausahaan terkait dengan kompetensi personal dan interpersonal seseorang yang perlu ditampilkan dalam perilaku mereka. Keterampilan kewirausahaan bukanlah melulu sebagai faktor bawaan yang tidak dapat diubah lagi sebagai mitos tradisional yang harus dipercaya. Penelitian telah membuktikan bahwa orang dapat mengubah karakteristik tertentu yang sebelumnya dianggap sebagai genetik, dan bahwa mereka memiliki lebih banyak kebebasan untuk berbuat dan menemukan peluang dalam lingkungan mereka. Pengetahuan bisnis dan keterampilan manajemen merupakan indikasi seberapa baik seorang wirausahawan dapat melakukan tugas-tugas penting dan kegiatan yang berkaitan dengan delapan fungsi bisnis, yakni: • fungsi manajemen umum; • fungsi operasi; • fungsi keuangan; • fungsi pembelian; • fungsi sumber daya manusia; • fungsi pemasaran; • fungsi administratif; dan • fungsi hubungan eksternal.
Contoh tugas-tugas penting yang berkaitan dengan ke delapan fungsi tersebut diatas adalah antara lain: riset pasar, periklanan, deskripsi kerja, penganggaran dan rencana bisnis. Adalah penting untuk diingat bahwa keterampilan kewirausahaan tanpa disertai pelatihan dalam keterampilan bisnis tidak akan menjamin hasil yang optimal. Sebuah kombinasi dari mengembangkan keterampilan kewirausahaan dengan pelatihan bisnis akan paling efektif dalam mempersiapkan dan mengembangkan wirausahawan untuk meraih sukses.
Melalui penelitian yang luas, McClelland telah mengidentifikasi tiga kategori kompetensi, yang berkaitan dengan keterampilan kewirausahaan yang mengakibatkan mereka lebih sukses ketimbang yang lainnya, yakni: 1. Proaktif Sikap proaktif dicirikan oleh kemampuan untuk mengambil inisiatif dan sikap tegas. Wirausahawan yang proaktif akan melakukan hal yang belum diminta atau dipaksa untuk langsung menghadapi suatu masalah. Wirausahawan dengan karakteristik demikian akan cenderung untuk memimpin dan akan memberitahukan pada orang lain apa yang segera harus dilaksanakan. 2. Berorientasi pada prestasi David McClelland yang telah meneliti bidang kewirausahaan, mengidentifikasi kebutuhan untuk mencapai prestasi sebagai karakteristik kewirausahaan yang berkorelasi dengan keberhasilan, disamping adanya motif kuat atau keinginan untuk memulai dan memperluas usaha. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian dari Hornaday dan Aboud yang menegaskan bahwa kebutuhan yang tinggi untuk mencapai prestasi adalah faktor psikologik yang paling penting yang mempengaruhi keberhasilan kewirausahaan. Orientasi berprestasi adalah kebutuhan seseorang untuk melakukan hal-hal yang lebih baik, lebih cepat dan lebih efisien. Seseorang dengan orientasi prestasi yang tinggi akan berperilaku sesuai dengan tuntutan kriteria wirausahawan yang sukses sebagai pebisnis yang rasional, yaitu: • Mereka akan merencanakan dan mengatur kehidupan mereka dan menunjukkan kepedulian tentang penggunaan waktu, artinya mereka cenderung untuk memaksimalkan kemungkinan mencapai sukses dengan menetapkan tujuan yang belum dicapai dan menantang, serta menunjukkan tekad dan kegigihan dalam mengejar tujuan mereka; • Mereka akan melakukan pekerjaan lebih baik secara signifikan ketika mereka mendapat umpan balik positif dan mengetahui seberapa baik respon yang harus mereka lakukan; • Mereka memikul tanggung jawab pribadi terhadap masalah yang muncul dan mencari solusi kreatif agar mengalami rasa kepuasan berprestasi dari penyelesaian suatu tugas; • Mereka tidak akan mendukung suatu tugas yang tingkat keberhasilannya tergantung pada faktor keberuntungan atau suatu keadaan di luar kendali rasio mereka; dan • Mereka akan mampu mengekspresikan atau menyatakan diri, serta menunjukkan kepercayaan diri dan fleksibilitas dalam perilaku mereka. 3. Kompetensi Kompetensi seseorang dengan tingkat kebutuhan tinggi untuk berprestasi dapat dijabarkan sebagai berikut, yakni: • Mereka akan lebih memilih memikul tanggung jawab secara pribadi dalam memecahkan suatu masalah; • Mereka ingin menetapkan tujuan mereka sendiri; • Mereka ingin untuk mencapai tujuan mereka dengan usaha mereka sendiri; • Mereka senang mendapat umpan balik (kontra-prestasi) tentang tugas-tugas mereka untuk mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi; • Mereka ingin mencapai rasa kepuasan pribadi dari pencapaian suatu prestasi; • Mereka ingin mengontrol waktu sendiri karena mereka tahu bahwa waktu adalah sumber daya terbatas; • Mereka menggunakan waktu dan uang secara kreatif; dan • Mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar untuk mencapai cita-cita mereka.
Last but not least, para wirausahawan sukses akan menyadari bahwa usaha mereka terlibat erat dengan banyak orang, artinya mereka akan menyadari bahwa kesuksesan tidak dapat diraih dalam ruang terisolasi. Mereka akan memotivasi para pekerja dan tahu bagaimana membangun jalinan dan jaringan kerja untuk kepentingan organisasi bisnis. Mereka juga berkepentingan untuk tetap menjaga hubungan baik secara jangka panjang dengan para pemasok, pelanggan, dan orang lain yang terlibat dalam organisasi bisnis.
Para wirausahawan akan dikenal sebagai pembangun tim kerja dan pencipta “pahlawan”, artinya mereka bukanlah seorang "penyendiri", mereka senantiasa akan tergoda untuk menciptakan "pahlawan-pahlawan" baru dari lingkungan sumber daya bisnis yang mereka miliki, dengan memberikan mereka tanggung jawab dan imbalan atau kontra prestasi untuk prestasi yang mereka tunjukkan. Mereka akan terus memotivasi, dan akan membangun tim wirausahawan yang berkualitas tinggi. Sebagaimana telah diketahui, kreativitas mengacu pada imajinasi seseorang dan kemampuannya untuk memikirkan sesuatu yang orisinal. Kemampuan Inovatif lebih mengacu pada penggunaan kemampuan kreatif untuk menciptakan sesuatu yang konkret. Wirausahawan sukses akan menggabungkan pemikiran kreatif dengan tindakan inovatif dan sekaligus menggabungkan pengetahuan bisnis dan keterampilan manajemen mereka. Kombinasi tersebut akan memastikan keberhasilan. Mereka akan terus-menerus mencari peluang yang khas dan unik, dan mengidentifikasi potensi bisnis dengan mengajukan berbagai pertanyaan dan mencari jawabannya.
|